Menggapai Hidup Berkualitas

Hidup Berkualitas

Apa lagi yang dicari dalam hidup ini bila semua telah direngkuh dalam genggaman. Keluarga adalah sesuatu yang amat berharga. Semua tindakan pada akhirnya berujung pada pencapaian kesejahteraan keluarga. Bila kesadaran akan kualitas hidup ini sudah ada, semuanya tinggal memilih…

Banyak sumber dan bacaan mengupas tentang kehidupan, seperti apakah hidup yang berkualitas itu?. Secara umum kualitas hidup bisa dikupas dari dua sisi pandang, yaitu secara fisik dan secara spriritual. Gaya hidup, kebiasaan akan dipengaruhi pula oleh lingkungan yang membentuk kita. Sebuah pandangan yang ekstrem membedakan antara cara pandang ketimuran dan cara pandang kebarat-baratan atau lebih biasa kita kenal sebagai western culture. Keduanya memiliki perbedaan yang amat mencolok, walaupun pada perkembangannya keduanya saling mengisi, khususnya dalam era globalisasi seperti saat ini.

Kesehatan, hal ini merupakan salah satu tolok ukur utama tentang bagaimana kualitas hidup bisa dicapai dalam sebuah perjalanan waktu. Rata-rata orang asia bisa hidup pada kisaran usia 60–70 tahun. Namun hal ini dipatahkan dengan beberapa teori mengenai hidup pula. Tidak sedikit orang asia bisa hidup mencapai usia 100 tahun, seperti yang tercatat di Guiness Book of Record, begitu juga terlihat dari catatan sensus penduduk Jepang, Korea dan Cina yang tergambarkan dalam piramida penduduknya yang terbalik.

Kesehatan secara fisik maupun spiritual akan sangat tergantung dengan lingkungan dimana dia berada. kondisi alam yang mendukung, sistem sosial yang berlaku didalamnya dan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, semuanya adalah faktor kuat pendukung peningkatan kualitas hidup.

Dalam ajaran kuno Tao dikenal sebuah sikap Wu Wei, yang bermakna tidak berbuat. Wu sendiri memiliki makna sebagai sebuah “kesadaran dan nalar yang tinggi”. Bisa dikatakan bahwa kualitas hidup sangat tergantung pada kesadaran kita untuk menyikapi lingkungan sekitar kita. Makin tanggap kita dalam melihat sebuah perubahan dan memanfaatkannya sebagai peluang maka secara otomatis kualitas hidup kita akan turut meningkat.

Bila dikaitkan dengan lingkungan, kesadaran atau nalar ini memegang peran penting pada sejauh mana seseorang bisa menikmati hidup yang dijalaninya. Pertemanan, hubungan sosial dengan rekan kerja, tetangga, keluarga adalah warna warni dalam hidup. Demikian pula hubungannya dengan sebuah komunitas masyarakat dengan karakternya masing-masing, sesuai dengan kultur dimana dia berkembang.

Secara spiritual kesadaran atau nalar ini telah diatur dalam semua agama yang ada di muka bumi. Semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Bagaimana bersikap, menghadapi masalah, mencari solusi dan membentuk karakter diri yang sebagaimana mestinya. Pandangan bahwa manusia berfungsi sebagai sosok individual dan sosial juga telah menjadi telaah para filsuf semenjak jaman romawi. Pendek kata, dari sisi spiritual, kualitas hidup ideal secara otomatis akan tercapai manakala kita berpegang teguh pada kepercayaan religi yang kita anut.

Dari sisi fisik, istilah mengatakan bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Pilihan dimana kita tinggal, meluangkan banyak waktu bersama keluarga, dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar adalah salah satu tolok ukur dimana kualitas hidup ideal bisa dicapai.

Gaya hidup bergeser, dahulu tidak banyak alternatif untuk bermukim disebuah hunian yang terencana. Pemukiman berkembang secara organik, mengikuti arus. Sedangkan trend masa kini pengembangan area pemukiman terencana, mulai dari skala kecil, menengah hingga skala kota mandiri. Perumahan dengan besaran antara 10 unit hingga ratusan unit telah menjamur di hampir seluruh kota berkembang di Indonesia, tidak hanya di ibukota propinsi, namun juga di kota-kota tingkat II seperti Malang, Balikpapan, Solo, Bantul dan yang lainnya.

Lingkungan yang tertata, nyaman, bersih, dan aman, amat mendukung gaya hidup modern yang berkualitas. Kelengkapan sarana dan prasarana bagi semua anggota keluarga adalah salah satunya. Kota Malang dikenal juga sebagai kota pendidikan memiliki sarana pendidikan yang memadai. Mulai Sekolah Bayi hingga perguruan tinggi kenamaan ada disini, dan tidak perlu diragukan lagi reputasi dan kualitasnya. Ukuran fasilitas Kota juga amat mencukupi, beberapa Mall, pusat hiburan maupun pariwisata dapat dijangkau dengan mudah, dilayani dengan sarana transportasi yang representatif. Berbicara tentang lingkungan, Kota Malang masih terus berbenah, variasi fasilitas ditingkatkan sejalan dengan pembenahan sarana yang sudah ada. Lingkungan Fisik bersifat amat dinamis, perkembangannya bisa berpacu dengan pertumbuhan ekonomi sekitarnya.
Masyarakat Malang dikenal dengan keramahtamahannya, tidak ubahnya dengan masyarakat kota-kota pada umumnya di Indonesia. Lingkungan sosial merupakan cerminan dari karakter sosial budaya suatu wilayah. Tolok ukur sosial kemasyarakatan bisa diamati dari strata sosial, jenjang pendidikan, kebersamaan, rasa saling memiliki dan yang lainnya seperti yang diulas tuntas dalam teori-teori Koentjaraningrat.
Maka untuk menggapai hidup berkualitas, penuhi keduanya, secara otomatis kesadaran atau nalar kita akan terasah untuk mengenali lingkungan yang terbaik. Ada 2 cara mudah untuk melakukannya. Pilih lingkungan sosial yang memadai, paling tidak memiliki karakter yang minimal sama dengan kita atau lebih baik dari kita. Yang kedua adalah memilih kota tempat tinggal dengan sarana dan prasarana yang lengkap.
Pada akhirnya kita akan kembali dihadapkan pada pilihan. Saat hati telah teguh pada keyakinan, Saat hati sudah mantap memilih berbaur dengan lingkungan sosial dan fisik. Pada dasarnya dua aspek telah terpenuhi, tinggal sejauh mana kesadaran atau nalar tinggi kita bisa menyikapi aspek tersebut sebagai pijakan untuk menggapai hidup berkualitas.